POLITIK & PILKADA

Capres PDIP di Pilpres 2024 akan Diputuskan Megawati

Status Kepartaian Belum Jelas, Andi Sudirman Sulaiman Mulai Jadi Rebutan Parpol

Kubu KLB Deli Serdang Ajukan Gugatan Terhadap AD ART Partai Demokrat, Ini Kata Pengamat

Buhari Pimpin Rapat Pembentukan Partai Ummat Palopo

Apresiasi Kinerja Taufan Pawe, Azis Syamsuddin Minta Fokus Besarkan Golkar

OLAHRAGA

  1. PSS Sleman Lolos ke Semifinal Piala Menpora Usai Tumbangkan Bali United Lewat Adu Pinalti

  2. Abdul Rachman Ungkap Perasaannya Saat Eksekusi Penalti ke Gawang PSIS dengan Panenka

  3. Zidane Sebut Real Madrid Tidak Akan Diperkuat Sergio Ramos di El Clasico

  4. Tiga Poin di El Clasico Jaga Asa Real Madrid dan Barcelona Raih Trofi Juara

  5. DORNA Sebut Sirkuit Mandalika Tidak Gelar MotoGP 2021

  6. Bos DORNA Tak Sabar Saksikan Gelaran MotoGP 2021 di Sirkuit Mandalika

  7. 3 Rekor Tercipta Usai Kemenangan PSG atas Bayern Muenchen

SELEBRITI

Atta-Aurel Jadi Sorotan Akibat Unggah Video Soal Malam Pertama, Dikritik NU.

Jokowi Jadi Saksi Nikah, Lokasi Pernikahan Atta-Aurel Dijaga Ketat Paspampres

Video Saat Hadir di Pernikahan Krisdayanti dan Raul Lemos Kembali Beredar, Netizen Puji Sikap Anang Hermansyah

Aa Gym Resmi Cabut Gugatan Cerai ke Teh Ninih

Artis Rina Gunawan Meninggal Dunia

HUKUM & KRIMINAL

  1. Terkait Kasus Prostitusi Online di Hotel Grand DDN`S Kendari, AR Dipulangkan Karena Belum Cukup Bukti

  2. Diduga Dijajakan Ke WNA China di Kendari, 11 Gadis Di bawah Umur Terlibat Prostitusi Online

  3. Bareskrim Polri Tetapkan Tiga Anggota Polda Metro Jadi Tersangka Unlawful Killing terhadap 6 Laskar FPI

  4. Soal Eksepsi Habib Rizieq yang Singgung Kerumunan Jokowi-Ahok, Ini Kata Majelis Hakim.

  5. Ternyata Denda Rp50 Juta yang Sudah Dibayar Habib Rizieq Tak Direken Majelis Hakim, Ini Alasannya.

Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia

Nasional | 2021-03-01

© Disediakan oleh Jalurinfo.com
JAKARTA, JALURINFO.COM - Tepat setahun pagebluk Covid-19 di Indonesia, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus mata rantai dengan penelusuran dan tes usap dinilai belum maksimal.

"Dokter! Ibu saya perutnya nggak gerak!"Adit (35) berteriak histeris saat tahu ibunya yang terbaring di kasur kamar sebuah rumah sakit rujukan covid-19 daerah Tangerang Selatan dengan selang oksigen tiba-tiba terdiam.

Adit, yang saat itu juga masih mendapat perawatan dengan jarum infus menempel di tangan kanannya, tergolek lemas. Ibunya sudah dua hari menunggu di Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan medis selanjutnya.

Sehari sebelumnya, pada 11 Januari 2021, sang ibu melakukan tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) setelah mengalami sesak nafas, mual, dan pusing. Namun, hasil tes belum keluar dan sang ibu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pihak rumah sakit tidak mengharuskan agar ibunya dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Alhasil, Adit memutuskan membawa pulang jenazah dan dimakamkan dengan prosedur pemakaman biasa.

Sedikitnya 40 orang hadir melayat pada 12 Januari 2021 lalu. Di antara mereka termasuk tetangga di sekitar rumah, keluarga, kerabat, serta tiga petugas yang memandikan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah.

Setelah pemakaman usai, surat hasil uji PCR keluar: sang ibu terkonfirmasi positif Covid-19.

Adit segera melapor ke RT. Selanjutnya, Puskesmas menghubunginya untuk uji PCR keluarga.

Hasil pun keluar, lima orang dinyatakan positif: Adit bersama kakak, bapak, serta dua saudara iparnya. Sementara, ketiga petugas ambulans dinyatakan negatif.

"Selain keluarga dan petugas ambulans, pihak Puskesmas tidak men-swab siapa yang melayat. Swab PCR dilakukan kalau ada yang bergejala," ujar Adit ketika dihubungi pada Jumat (26/02).

Puskesmas tidak menguji usap puluhan orang yang melayat karena tidak menunjukkan gejala. Beberapa yang melayat kemudian melakukan tes usap Antigen dengan dana pribadi.

Menurut standar World Health Organization, setidaknya 30 orang di sekeliling pasien terkonfirmasi positif harus dites.

Tes pun juga termasuk pada orang tidak bergejala. Bisa jadi, mereka termasuk kategori orang asimtomatik atau tanpa gejala. Ada pula orang presimtomatik, atau orang yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala.

Minimnya penelusuran kontak erat juga dirasakan Alex (31) (bukan nama sebenarnya), warga Rawalumbu, Bekasi. Ia dan istrinya sempat dinyatakan positif Covid-19 awal Februari 2021. Sesaat, ia segera melapor ke RT dan berobat ke rumah sakit swasta rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

"Rumah sakit seharusnya memberikan panduan, harus menghubungi siapa dan kenapa," ujar Alex ketika dihubungi pada Minggu (28/02). Menurut prosedur, RT melaporkan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas untuk penelusuran kontak erat.

"Tidak ada tracing dari Puskesmas. Saya melakukan tracing mandiri dan menghubungi orang-orang yang berinteraksi dengan saya dalam beberapa hari sebelumnya."

Ia pun segera mengetes kontak eratnya dan sang istri, yakni 10 orang anggota keluarga. "Saya tes Antigen untuk keluarga dan mereka negatif," katanya.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Nurani menilai pemerintah Indonesia masih minim melakukan testing (pengujian) dan tracing (penelusuran).

"Sejak awal pandemi, memang testing masih kurang. Pelunasan tracing dan testing 20 hingga 30 orang di sekeliling orang terkonfirmasi positif tidak terpenuhi, (rata-rata) hanya lima orang. Jadi melesetnya besar," ujar Nuning ketika diwawancara pada Jumat (26/02) lalu.

"Artinya, malah memperburuk transmisi (virus) dengan situasi yang demikian."

Potensi penyebaran tinggi

Minimnya tes dan penelusuran menjadi salah satu faktor angka kasus Covid-19 masih tinggi di Indonesia. Merujuk analisis yang dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0,89.

Artinya, semakin banyak yang dites maka cenderung bermunculan kasus baru yang lebih banyak. Begitu juga sebaliknya.

Baca juga: Kesal Pertanyaannya Dipotong, Habib Rizieq Bentak JPU

Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, "potensi penyebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi."

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir di Indonesia dalam waktu dekat. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke "stadium 4".

"Kalau tidak disiplin (protokol kesehatan) itu sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu pertanyaan yang sulit dijawab," ujar Nuning.

Indonesia bisa dianggap aman dan kasus mulai mereda apabila jumlah tes makin tinggi, yakni sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang positif semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan jumlah uji atau biasa disebut dengan positivity rate di Indonesia masih di angka 18,5% dari total 7,1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan dengan enam negara lainnya di Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih menempati urutan pertama.

Rasio orang terkonfirmasi positif paling rendah yakni di Singapura, senilai 0,82%. Per 27 Februari 2021, negeri Singa ini sudah menguji PCR sebanyak 7.290.760 kali dengan jumlah kasus positif 59.925. Grafik kasus harian baru pun cenderung stagnan.

Di Malaysia, angka rasio menunjukkan hampir empat kali lebih rendah dari angka di Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali lebih rendah.

Korea Selatan adalah negara yang menjadi `kiblat` tes usap lantaran mengambil gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat pada awal pandemi.

Studi oleh Brigham and Women`s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menyebutkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk melakukan tes usap bekerja sama dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes mencapai 15.000 hingga 20.000 tes saban harinya.

Selain itu, studi gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijakan Korea Selatan dibuat dari pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 lalu.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji 6.649.006 orang dan mendapati 89.676 kasus positif.

Kurva masih dinamis

Dengan tes usap yang belum maksimal, bagaimana kurva Covid-19 Indonesia selama setahun dibandingkan dengan negara lainnya?

BBC East Asia Visual Journalism menghitung jumlah kasus baru per harinya dan rata-rata kasus selama tujuh hari menggunakan exponential moving average dari data Kementerian Kesehatan untuk melihat tren penambahan jumlah kasus; apakah sudah stagnan atau justru masih dinamis.

Grafik di bawah menunjukkan kurva Indonesia masih dinamis. Dari lima orang yang dites, akan ditemukan satu kasus positif.

Negara dengan kurva serupa Indonesia yakni Malaysia. Di Malaysia, setiap 17 Tes usap PCR, ditemukan satu kasus positif.

Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia



BERITA TERKAIT

Ini Alasan Pemerintah Ubah Interval Waktu Vaksinasi Covid-19
Survei KedaiKOpi Terkait Capres 2024 , Elektabilitas Susi Pudjiastuti Tertinggi Diantara Tokoh Non Parpol
Habib Rizieq Tunda Shalat Tarawih hingga Sidang Usai
Perpanjang SIM Bisa Lewat Online, Begini Caranya
Ahli Sebut Masyarakat Tidak Perlu Ragu Vaksinasi  Covid-19 di Bulan Puasa
Kementrian PUPR Siapkan Relokasi Rumah Warga Korban Banjir di NTT
Tolak Pembayaran THR dicicil dan Omnibus Law, Besok Buruh Gelar Demo Besar-besaran
KSPI Sebut Ada Sekitar 1.487 Pekerja yang Belum Dilunasi THR di 2020
Gubernur Khofifah Sebut Pemerintah Akan Tanggung Semua Biaya Perawatan Korban Gempa Malang
Jokowi Perintahkan Segera Lakukan Langkah Darurat Pasca Gempa Malang

TERPOPULER

  1. Bukan Hanya RT/RW, 60% Lurah di Makassar Juga Bakal Dimutasi, Ini Penyebabnya Menurut Danny Pomanto

  2. Soal Eksepsi Habib Rizieq yang Singgung Kerumunan Jokowi-Ahok, Ini Kata Majelis Hakim.

  3. Naik 48 Milyar dalam Periode Satu Tahun, Berikut Daftar Harta Kekayaan Kepala Bapenda Makassar

  4. Ramai Polemik Soal Harta Kekayaannya Rp56 M, Kepala Bapenda Makassar: Saya Bisa Pertanggungjawabkan

  5. Apa Sih Perbedaan Terusan Suez dan Terusan Panama? Simak Ulasannya

  6. Buhari Pimpin Rapat Pembentukan Partai Ummat Palopo

  7. Desain Istana Garuda Dikritik Arsitek, Ini Alasannya

  8. Ekspor Sulsel Februari 2021 Naik Signifikan, Nilai Capai US$108,78 Juta

  9. Jokowi Jadi Saksi Nikah, Lokasi Pernikahan Atta-Aurel Dijaga Ketat Paspampres

  10. Final Piala Carabao antara Tottenham vs Manchester City, Jadi Ajang Uji Coba Supporter untuk Nonton secara Langsung

RELIGI

Ini 10 Amalan Sunnah yang Bisa Dilakukan di Bulan Puasa Ramadhan

Menag Tetapkan Ramadhan 1442 H Mulai 13 April 2021

Lupa Allah dan Lupa Diri

Khusus Zona Hijau dan Kuning, Pemerintah Tetapkan Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri

Hikmah di Balik Larangan Khamar Menurut Islam

EKONOMI

  1. Jadwal Pencairan THR bagi PNS di Tahun 2021

  2. Ekspor Sulsel Februari 2021 Naik Signifikan, Nilai Capai US$108,78 Juta

  3. BUMDes " Lumbung Padi " Harapan Baru Masyarakat Desa

  4. Investasi UEA di Indonesia Capai 10 Miliar Dollar

  5. Meski Populasi Sapi Banyak, Ini Alasan Impor Daging Menurut Kadin

  6. Susi Pudjiastuti Kritik Soal Rencana Impor 3 Juta Ton Garam

  7. Masyarakat Kini Bisa Miliki Uang Baru Rp 75 Ribu

  8. Bandara Buntu Kunik Toraja Siap Layani Rute Bali dan Jakarta

  9. Rasio Naik Tipis, Utang Luar Negeri Tembus Rp6.065,6 Triliun

  10. Tampuk Pimpinan Berganti, Minarni Lukman Nakhodai BP Jamsostek Sulawesi Tenggara

  11. Ini Besaran Insentif Kartu Prakerja Gelombang Ke-12

  12. Pencarian Mobil Baru di Google Melonjak

Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia

Nasional | 2021-03-01

© Disediakan oleh Jalurinfo.com
Choose Language!
JAKARTA, JALURINFO.COM - Tepat setahun pagebluk Covid-19 di Indonesia, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus mata rantai dengan penelusuran dan tes usap dinilai belum maksimal.

"Dokter! Ibu saya perutnya nggak gerak!"Adit (35) berteriak histeris saat tahu ibunya yang terbaring di kasur kamar sebuah rumah sakit rujukan covid-19 daerah Tangerang Selatan dengan selang oksigen tiba-tiba terdiam.

Adit, yang saat itu juga masih mendapat perawatan dengan jarum infus menempel di tangan kanannya, tergolek lemas. Ibunya sudah dua hari menunggu di Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan medis selanjutnya.

Sehari sebelumnya, pada 11 Januari 2021, sang ibu melakukan tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) setelah mengalami sesak nafas, mual, dan pusing. Namun, hasil tes belum keluar dan sang ibu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pihak rumah sakit tidak mengharuskan agar ibunya dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Alhasil, Adit memutuskan membawa pulang jenazah dan dimakamkan dengan prosedur pemakaman biasa.

Sedikitnya 40 orang hadir melayat pada 12 Januari 2021 lalu. Di antara mereka termasuk tetangga di sekitar rumah, keluarga, kerabat, serta tiga petugas yang memandikan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah.

Setelah pemakaman usai, surat hasil uji PCR keluar: sang ibu terkonfirmasi positif Covid-19.

Adit segera melapor ke RT. Selanjutnya, Puskesmas menghubunginya untuk uji PCR keluarga.

Hasil pun keluar, lima orang dinyatakan positif: Adit bersama kakak, bapak, serta dua saudara iparnya. Sementara, ketiga petugas ambulans dinyatakan negatif.

"Selain keluarga dan petugas ambulans, pihak Puskesmas tidak men-swab siapa yang melayat. Swab PCR dilakukan kalau ada yang bergejala," ujar Adit ketika dihubungi pada Jumat (26/02).

Puskesmas tidak menguji usap puluhan orang yang melayat karena tidak menunjukkan gejala. Beberapa yang melayat kemudian melakukan tes usap Antigen dengan dana pribadi.

Menurut standar World Health Organization, setidaknya 30 orang di sekeliling pasien terkonfirmasi positif harus dites.

Tes pun juga termasuk pada orang tidak bergejala. Bisa jadi, mereka termasuk kategori orang asimtomatik atau tanpa gejala. Ada pula orang presimtomatik, atau orang yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala.

Minimnya penelusuran kontak erat juga dirasakan Alex (31) (bukan nama sebenarnya), warga Rawalumbu, Bekasi. Ia dan istrinya sempat dinyatakan positif Covid-19 awal Februari 2021. Sesaat, ia segera melapor ke RT dan berobat ke rumah sakit swasta rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

"Rumah sakit seharusnya memberikan panduan, harus menghubungi siapa dan kenapa," ujar Alex ketika dihubungi pada Minggu (28/02). Menurut prosedur, RT melaporkan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas untuk penelusuran kontak erat.

"Tidak ada tracing dari Puskesmas. Saya melakukan tracing mandiri dan menghubungi orang-orang yang berinteraksi dengan saya dalam beberapa hari sebelumnya."

Ia pun segera mengetes kontak eratnya dan sang istri, yakni 10 orang anggota keluarga. "Saya tes Antigen untuk keluarga dan mereka negatif," katanya.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Nurani menilai pemerintah Indonesia masih minim melakukan testing (pengujian) dan tracing (penelusuran).

"Sejak awal pandemi, memang testing masih kurang. Pelunasan tracing dan testing 20 hingga 30 orang di sekeliling orang terkonfirmasi positif tidak terpenuhi, (rata-rata) hanya lima orang. Jadi melesetnya besar," ujar Nuning ketika diwawancara pada Jumat (26/02) lalu.

"Artinya, malah memperburuk transmisi (virus) dengan situasi yang demikian."

Potensi penyebaran tinggi

Minimnya tes dan penelusuran menjadi salah satu faktor angka kasus Covid-19 masih tinggi di Indonesia. Merujuk analisis yang dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0,89.

Artinya, semakin banyak yang dites maka cenderung bermunculan kasus baru yang lebih banyak. Begitu juga sebaliknya.

Baca juga: Kesal Pertanyaannya Dipotong, Habib Rizieq Bentak JPU

Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, "potensi penyebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi."

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir di Indonesia dalam waktu dekat. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke "stadium 4".

"Kalau tidak disiplin (protokol kesehatan) itu sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu pertanyaan yang sulit dijawab," ujar Nuning.

Indonesia bisa dianggap aman dan kasus mulai mereda apabila jumlah tes makin tinggi, yakni sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang positif semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan jumlah uji atau biasa disebut dengan positivity rate di Indonesia masih di angka 18,5% dari total 7,1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan dengan enam negara lainnya di Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih menempati urutan pertama.

Rasio orang terkonfirmasi positif paling rendah yakni di Singapura, senilai 0,82%. Per 27 Februari 2021, negeri Singa ini sudah menguji PCR sebanyak 7.290.760 kali dengan jumlah kasus positif 59.925. Grafik kasus harian baru pun cenderung stagnan.

Di Malaysia, angka rasio menunjukkan hampir empat kali lebih rendah dari angka di Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali lebih rendah.

Korea Selatan adalah negara yang menjadi `kiblat` tes usap lantaran mengambil gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat pada awal pandemi.

Studi oleh Brigham and Women`s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menyebutkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk melakukan tes usap bekerja sama dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes mencapai 15.000 hingga 20.000 tes saban harinya.

Selain itu, studi gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijakan Korea Selatan dibuat dari pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 lalu.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji 6.649.006 orang dan mendapati 89.676 kasus positif.

Kurva masih dinamis

Dengan tes usap yang belum maksimal, bagaimana kurva Covid-19 Indonesia selama setahun dibandingkan dengan negara lainnya?

BBC East Asia Visual Journalism menghitung jumlah kasus baru per harinya dan rata-rata kasus selama tujuh hari menggunakan exponential moving average dari data Kementerian Kesehatan untuk melihat tren penambahan jumlah kasus; apakah sudah stagnan atau justru masih dinamis.

Grafik di bawah menunjukkan kurva Indonesia masih dinamis. Dari lima orang yang dites, akan ditemukan satu kasus positif.

Negara dengan kurva serupa Indonesia yakni Malaysia. Di Malaysia, setiap 17 Tes usap PCR, ditemukan satu kasus positif.

Catatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia

Jangan Lewatkan:

TERPOPULER HARI INI

KOLEKSI VIDEO POPULER

Terkait Covid-19

PT. JALUR INFO NUSANTARA

Jalur Informasi Independen & Terpercaya

Copyright 2020